Laman

Sabtu, 02 November 2013

Hujan Membacamu

Hujan tahu kau masih peduli
suara serak di jemu jarak,
lilin kecil tiada berpuan
sepeninggal tuan ke pasar zaman
memilih waktu mana yang paling apik
dan belanja ingatan melankoli.
Hujan tahu kau masih peduli
derai di sebatang serai
yang kau memarkan untuk kesenangan
lidahmu haus perisa pangan.
Hujan tahu kamu masih peduli
jejak-jejak samar
di punggung jalan yang gatal
selepas hujan menghapus
langkah tak mau pergi
yang kini terus kau cari.
Ya, Hujan tahu
sesalmu kini.

-dipta


Akumu di Sebujur Waktu

selama pagi tak jemu jadi penyapa bumi
selama kamu tak jenuh jadi penanda hari
selama aku tak penuh di cangkir kopimu
selama peluh tak jadi keluh
selama utuh buatmu butuh
selama kamu rajin bertamu
selama pintuku kau ketuk dengan pagarmu
maka di tungkumu
aku masih nyala waktu

-dipta

Kamis, 24 Oktober 2013

Rumah Terakhir

Sesal bingung mencari
Aku yang bersembunyi sedih
Di pusar ayahku
Atau pusara ibuku

-dipta

Mencari Kata

Aku tidak tahu, dik
Bagaimana menjawab pertanyaanmu
Tanpa pernyataan
Aku mencintaimu

-dipta

Jumat, 11 Oktober 2013

Cara Mudah Bikin Puisi (ii)

Dulu banjir katamu menggenang
Lalu kenapa,
Karna sebuah cuma
Kau keringkan segala genang
Hingga sebatas kenang?

-dipta

Akulahmu (Kaulahku)

Kekasih, aku tiada puisi lama
Akulahmu merimba di dada tanpa kemeja
Ulahmu loloskan kancing dari mata tanpa bola
Lupalah aku segala tepi dari serikat cuma
Akulahmu, setubuh adu jiwa dari yang jauh.
Hujan engahkan kita, kasih.
Kasak-rusuk disebujur kapuk
Uapkan rindu disegala yang lapuk.

Kamis, 19 September 2013

Anginkan Mengapamu di Sayup Resahku.

Aku penanda nyeri
Lukamu tak semenyenangkan punyaku
Yang beranak-pinak di malam hari
Yang jadi sebab tiap terkesiap
Ialah jawaban
Dari mengapa-mengapaku
Ya, mengapa.
Sepiku malah tumpukan pembicaraan alot
Sedang sepimu cuma sendiri
Kau bisa, mengopi di pelataran
Dengan jiwamu yang lain.
Ya mengapa.
Sepiku malah adu cicit
Berebut sangkar padahal sebaik rumah,
hanya seikat dari serikat.
Nyerimu tak semenyenangkan punyaku.
Sepimu tak segetir malamku.
Mengapa, ya.

-dipta