Ku serahkan segala kerah
Seperti embun di kelopak layu
Pagi-pagi mata sudah sayu
Terlalu sering menghidupkan malam
Dengan terik bohlam.
Ku pintal segala pinta
Seperti sulur yang mencoba hidup
Di antara para pencakar langit
Dan pengoyak tanah berhumus.
Ku tantang segala tentang
Seperti mawar yang hendak di renggut
Dari tanah yang menghidupinya
Dari duri yang dicintainya
Hanya agar tangan pecinta nyaman
Tanpa mau pikirkan:
Barangkali kamu terluka.
-dipta
bukanlah seorang penuh luka yang tak selalu terluka. bukanlah amatir yang pandai menyerap tafsir yang tak pernah memaknai pelesir.
Senin, 04 November 2013
Sabtu, 02 November 2013
Hujan Membacamu
Hujan tahu kau masih peduli
suara serak di jemu jarak,
lilin kecil tiada berpuan
sepeninggal tuan ke pasar zaman
memilih waktu mana yang paling apik
dan belanja ingatan melankoli.
Hujan tahu kau masih peduli
derai di sebatang serai
yang kau memarkan untuk kesenangan
lidahmu haus perisa pangan.
Hujan tahu kamu masih peduli
jejak-jejak samar
di punggung jalan yang gatal
selepas hujan menghapus
langkah tak mau pergi
yang kini terus kau cari.
Ya, Hujan tahu
sesalmu kini.
-dipta
suara serak di jemu jarak,
lilin kecil tiada berpuan
sepeninggal tuan ke pasar zaman
memilih waktu mana yang paling apik
dan belanja ingatan melankoli.
Hujan tahu kau masih peduli
derai di sebatang serai
yang kau memarkan untuk kesenangan
lidahmu haus perisa pangan.
Hujan tahu kamu masih peduli
jejak-jejak samar
di punggung jalan yang gatal
selepas hujan menghapus
langkah tak mau pergi
yang kini terus kau cari.
Ya, Hujan tahu
sesalmu kini.
-dipta
Akumu di Sebujur Waktu
selama pagi tak jemu jadi penyapa bumi
selama kamu tak jenuh jadi penanda hari
selama aku tak penuh di cangkir kopimu
selama peluh tak jadi keluh
selama utuh buatmu butuh
selama kamu rajin bertamu
selama pintuku kau ketuk dengan pagarmu
maka di tungkumu
aku masih nyala waktu
-dipta
selama kamu tak jenuh jadi penanda hari
selama aku tak penuh di cangkir kopimu
selama peluh tak jadi keluh
selama utuh buatmu butuh
selama kamu rajin bertamu
selama pintuku kau ketuk dengan pagarmu
maka di tungkumu
aku masih nyala waktu
-dipta
Kamis, 24 Oktober 2013
Rumah Terakhir
Sesal bingung mencari
Aku yang bersembunyi sedih
Di pusar ayahku
Atau pusara ibuku
-dipta
Aku yang bersembunyi sedih
Di pusar ayahku
Atau pusara ibuku
-dipta
Mencari Kata
Aku tidak tahu, dik
Bagaimana menjawab pertanyaanmu
Tanpa pernyataan
Aku mencintaimu
-dipta
Bagaimana menjawab pertanyaanmu
Tanpa pernyataan
Aku mencintaimu
-dipta
Jumat, 11 Oktober 2013
Cara Mudah Bikin Puisi (ii)
Dulu banjir katamu menggenang
Lalu kenapa,
Karna sebuah cuma
Kau keringkan segala genang
Hingga sebatas kenang?
-dipta
Lalu kenapa,
Karna sebuah cuma
Kau keringkan segala genang
Hingga sebatas kenang?
-dipta
Akulahmu (Kaulahku)
Kekasih, aku tiada puisi lama
Akulahmu merimba di dada tanpa kemeja
Ulahmu loloskan kancing dari mata tanpa bola
Lupalah aku segala tepi dari serikat cuma
Akulahmu, setubuh adu jiwa dari yang jauh.
Hujan engahkan kita, kasih.
Kasak-rusuk disebujur kapuk
Uapkan rindu disegala yang lapuk.
Akulahmu merimba di dada tanpa kemeja
Ulahmu loloskan kancing dari mata tanpa bola
Lupalah aku segala tepi dari serikat cuma
Akulahmu, setubuh adu jiwa dari yang jauh.
Hujan engahkan kita, kasih.
Kasak-rusuk disebujur kapuk
Uapkan rindu disegala yang lapuk.
Langganan:
Postingan (Atom)