aku kamu dia
aku dia
aku
takut
dia kamu aku
dia aku
dia
takut
jangan bdnci, jangan dendam, jangan balas
jangan mengumpat, jangan kesal
jangan emosi sucikan hati
diam, amati, ikhlas diri
-dipta
bukanlah seorang penuh luka yang tak selalu terluka. bukanlah amatir yang pandai menyerap tafsir yang tak pernah memaknai pelesir.
Jumat, 26 Oktober 2012
Jumat, 28 September 2012
Secepat Lalu
Ia menggenggamku begitu erat
Melewati ruang dingin sangat gelap
Saat kami telah bebas dari labirin antah berantah
Ia mencengkram pundak mungilku dan berkata "lihat? ini mudah"
Sinar yang hangat menembus sela rambutnya
Aku begitu fokus pada matanya yang lelah
Di sekitar kami mungkin bukit dengan mentari sore dan pohon-pohon oak
Ia tersenyum dan mendekapku seolah ia berhasil mendapat harta karun
Di atas senyum bulan sabitku
Di atas kebahagiaanku
Kami bagai api dan tungku
Yang kini padam di halau waktu
Aku meringkuk dikasur empuk
Kesunyian adalah kawan bermain
Tawaku terendam hening
Bukan lagi dibukit dengan ruh melainkan bejana
Sedang main dengan waktu
Mengenang-ngenang seperti apa dulu
Bagaimana hal ini dapat pupus tanpa pasang surut
Padahal dulu semenyenangkan itu
-dipta
Melewati ruang dingin sangat gelap
Saat kami telah bebas dari labirin antah berantah
Ia mencengkram pundak mungilku dan berkata "lihat? ini mudah"
Sinar yang hangat menembus sela rambutnya
Aku begitu fokus pada matanya yang lelah
Di sekitar kami mungkin bukit dengan mentari sore dan pohon-pohon oak
Ia tersenyum dan mendekapku seolah ia berhasil mendapat harta karun
Di atas senyum bulan sabitku
Di atas kebahagiaanku
Kami bagai api dan tungku
Yang kini padam di halau waktu
Aku meringkuk dikasur empuk
Kesunyian adalah kawan bermain
Tawaku terendam hening
Bukan lagi dibukit dengan ruh melainkan bejana
Sedang main dengan waktu
Mengenang-ngenang seperti apa dulu
Bagaimana hal ini dapat pupus tanpa pasang surut
Padahal dulu semenyenangkan itu
-dipta
Sebait Puisi
HAL TABU
Denganmu bagai fatamorgana dipadang pasir
Sejauh aku mengejar kau makin jauh pula
Layaknya berdiri dibatu licin
Sudah begitu tertimpa hujan
-dipta
Minggu, 23 September 2012
Nasib Para Stalker
Kalo pas aku liat kamu, pasti ketepatan kamu liat aku juga.
Trus pasti aku buang muka liat yang lain..
Katanya sih kamu udah single, tapi bukan berarti mau memiliki sih ya.
Pas malem-malem, ditengah ngerjain pr fisika sama kimia,
tekadku buat nuntaskan pr jd ilang.
Maklum lah.. anak muda tergoda aja pas disebelah ada laptop nganggur masih kepasang wifi, hihi.
Jadi deh, bukunya aku php-in.
Mbatin nya nanti selesai kok, nanti hehe. Nggak! Beneran harus selesai!
Nah, pas buka google, iseng-iseng cari orang.
Kebetulan nggak punya username twitternya.
Pas mencet 'search', cling! Keluar semua account nya kamu.
Akhirnya aku pilih blogger.
Disana kamu follow blog pacarmu.
Iseng-iseng aja baca artikelnya.
Pas lagi asik ngikutin alur blog pacarnya, eh sorry, sekarang mantan.
Ada posting yang isinya full tentang kamu, dari hobi apapun lah,
Sampai dia minta maaf lewat blog.
Kaku lah rasanya.
Diem.. aja nggak bisa gerak.
Nggak mikir apa-apa sih.. cuma mbatin "oh".
Akhirnya aku tutup, kalo diliat orang aku diem2 nguntit nyeeeh mau ngomong apaaa..
Tapi resiko juga sih jadi stalker..
Mau nggak nguntit penasaran.
Mau nguntit ntar jadinya nyesek.
Tau nggak pas itu rasanya gimana?
Nggak nyesek parah sih..
Bayangin aja ya, kamu lagi liat laptop.
Trus tiba2 nyesek, Deg!
"mati"
Selasa, 18 September 2012
Sebait Nasehat
Kalau membawa perahu jangan ikuti arus saja
Sekali waktu hadapi riak kecil atau bahkan sebuah gelombang
Air yang tenang kadang berbahaya juga
Tahu-tahu tenggelam atau termakan buaya
-dipta
Sekali waktu hadapi riak kecil atau bahkan sebuah gelombang
Air yang tenang kadang berbahaya juga
Tahu-tahu tenggelam atau termakan buaya
-dipta
Suara Dalam Keheningan
Ayah, wanita memang indah
mengagumi mereka sungguh tiada habis yah
Kau telah miliki satu tuk kau kagumi sendiri
Kagumi ia saja yah, sama saja tiada habis
Malam dimana kita maka besar
Tanyaku tiada putus yah
Kulihat kau mencuri pandang
Wanita didepanmu makan dengan elok manis juga rupanya
Tapi tanyaku terberangus
Saat aku tahu tabir terkelam mu
Kau mengindahi dua wanita dihatimu yang hanya ada satu
Ayah...
Jika aku mempunyai dua ibu
Aku lebih baik mati
-dipta
mengagumi mereka sungguh tiada habis yah
Kau telah miliki satu tuk kau kagumi sendiri
Kagumi ia saja yah, sama saja tiada habis
Malam dimana kita maka besar
Tanyaku tiada putus yah
Kulihat kau mencuri pandang
Wanita didepanmu makan dengan elok manis juga rupanya
Tapi tanyaku terberangus
Saat aku tahu tabir terkelam mu
Kau mengindahi dua wanita dihatimu yang hanya ada satu
Ayah...
Jika aku mempunyai dua ibu
Aku lebih baik mati
-dipta
Minggu, 16 September 2012
Mungkin Tanpa Batas
Ya Allah...
Aku bukan berkeluh kesah namun hanya bertanya
Jika kesabaran seluas langit
Lalu keikhlasan seluas apa?
-dipta
Aku bukan berkeluh kesah namun hanya bertanya
Jika kesabaran seluas langit
Lalu keikhlasan seluas apa?
-dipta
Langganan:
Postingan (Atom)