Sesal bingung mencari
Aku yang bersembunyi sedih
Di pusar ayahku
Atau pusara ibuku
-dipta
bukanlah seorang penuh luka yang tak selalu terluka. bukanlah amatir yang pandai menyerap tafsir yang tak pernah memaknai pelesir.
Kamis, 24 Oktober 2013
Mencari Kata
Aku tidak tahu, dik
Bagaimana menjawab pertanyaanmu
Tanpa pernyataan
Aku mencintaimu
-dipta
Bagaimana menjawab pertanyaanmu
Tanpa pernyataan
Aku mencintaimu
-dipta
Jumat, 11 Oktober 2013
Cara Mudah Bikin Puisi (ii)
Dulu banjir katamu menggenang
Lalu kenapa,
Karna sebuah cuma
Kau keringkan segala genang
Hingga sebatas kenang?
-dipta
Lalu kenapa,
Karna sebuah cuma
Kau keringkan segala genang
Hingga sebatas kenang?
-dipta
Akulahmu (Kaulahku)
Kekasih, aku tiada puisi lama
Akulahmu merimba di dada tanpa kemeja
Ulahmu loloskan kancing dari mata tanpa bola
Lupalah aku segala tepi dari serikat cuma
Akulahmu, setubuh adu jiwa dari yang jauh.
Hujan engahkan kita, kasih.
Kasak-rusuk disebujur kapuk
Uapkan rindu disegala yang lapuk.
Akulahmu merimba di dada tanpa kemeja
Ulahmu loloskan kancing dari mata tanpa bola
Lupalah aku segala tepi dari serikat cuma
Akulahmu, setubuh adu jiwa dari yang jauh.
Hujan engahkan kita, kasih.
Kasak-rusuk disebujur kapuk
Uapkan rindu disegala yang lapuk.
Kamis, 19 September 2013
Anginkan Mengapamu di Sayup Resahku.
Aku penanda nyeri
Lukamu tak semenyenangkan punyaku
Yang beranak-pinak di malam hari
Yang jadi sebab tiap terkesiap
Ialah jawaban
Dari mengapa-mengapaku
Ya, mengapa.
Sepiku malah tumpukan pembicaraan alot
Sedang sepimu cuma sendiri
Kau bisa, mengopi di pelataran
Dengan jiwamu yang lain.
Ya mengapa.
Sepiku malah adu cicit
Berebut sangkar padahal sebaik rumah,
hanya seikat dari serikat.
Nyerimu tak semenyenangkan punyaku.
Sepimu tak segetir malamku.
Mengapa, ya.
-dipta
Lukamu tak semenyenangkan punyaku
Yang beranak-pinak di malam hari
Yang jadi sebab tiap terkesiap
Ialah jawaban
Dari mengapa-mengapaku
Ya, mengapa.
Sepiku malah tumpukan pembicaraan alot
Sedang sepimu cuma sendiri
Kau bisa, mengopi di pelataran
Dengan jiwamu yang lain.
Ya mengapa.
Sepiku malah adu cicit
Berebut sangkar padahal sebaik rumah,
hanya seikat dari serikat.
Nyerimu tak semenyenangkan punyaku.
Sepimu tak segetir malamku.
Mengapa, ya.
-dipta
Minggu, 25 Agustus 2013
Sabtu, 03 Agustus 2013
Sabda Laut
Kini laut dapat mencium utuh
Bulan yang tidak sabit
Bukan berarti melangkahi langit
Ia bukan segolongan picik di titik pulau sana
Dengan riaknya ia mencumbu
Di geladak ini
Ia lebih tidak peduli
Ada sebuah atau seubah
Lelaki yang menatapnya iri
"Semua tak luput dari laku luka rintang", katanya
"Kekasihku tiada turun dengan titian
Sedang aku tak dapat membawa tangis kesisi anggunnya
Yang jadi musal lautku
Meski segumpal dengki hitam awan tak merestu
Dan seputar angin memusar nanah letihku
Kekasihku masih mengecup kening
Cinta tiada karena
Walau sebisanya beri bayang di bentang cermin
Tuhan tak alpa ingatkan jua
Kekasihku tak mungkin bersanding dibawah
Meski demikian Tuhan restui dia
Memendar belai keperakan
Yang tiadanya lautku kering
Menguap hujan
Dikemarau panjang
-dipta
Bulan yang tidak sabit
Bukan berarti melangkahi langit
Ia bukan segolongan picik di titik pulau sana
Dengan riaknya ia mencumbu
Di geladak ini
Ia lebih tidak peduli
Ada sebuah atau seubah
Lelaki yang menatapnya iri
"Semua tak luput dari laku luka rintang", katanya
"Kekasihku tiada turun dengan titian
Sedang aku tak dapat membawa tangis kesisi anggunnya
Yang jadi musal lautku
Meski segumpal dengki hitam awan tak merestu
Dan seputar angin memusar nanah letihku
Kekasihku masih mengecup kening
Cinta tiada karena
Walau sebisanya beri bayang di bentang cermin
Tuhan tak alpa ingatkan jua
Kekasihku tak mungkin bersanding dibawah
Meski demikian Tuhan restui dia
Memendar belai keperakan
Yang tiadanya lautku kering
Menguap hujan
Dikemarau panjang
-dipta
Langganan:
Postingan (Atom)