Laman

Kamis, 14 Juni 2012

Letih Sebagai Judul

Kamu hanya melirik
Kamu hanya berkata ya, tidak, dan sejenis kata pendek lainnya
Pembicaraan kita terhenti
Jadi aku menulis puisi

Puisiku kali ini tak ada kiasan dalam
Hanya tatanan bahasa biasa
Tak berbelit
Tak rumit

Tatanan bahasa ku telah habis
Merangkai kata untukmu
Hanya sekedar bertanya
Apa yang menyebabkan perubahanmu

Puisiku kali ini tak rumit
Tak ada kalimat berbelit

Aku letih
Asa sudah disini
Saat ku menulis bait terakhir


Entah

Diam

Diam

Diam

Diam

Di...

Di...

Dimanakah kutemukan penawar hening?

#untuk teman sepermainanku yang kiranya berubah dalam heningnya hasutan


Tersesat di Pengasingan

Sampanku tak lama berlabuh
Hanya bersandar tuk mengusap peluh

Sampanku tak lama berlabuh
Hanya bersandar tuk menyapa kau wahai saudaraku, sahabatku.
Lama aku terapung dan berkawan dayung

Sampanku tak lama berlabuh
Hanya bersandar tuk melepas rindu wahai sahabatku
Tapi kau bisu
Aku tak kembali tuk segumpal kebisuanmu

Yah sejak aku terapung lama
Aku tak tahu sosokmu telah berbeda
Terpikir oleh ku kau kan berlari
Berlari dan memeluk ku

Apa mau dikata sahabatku
Semua tak lagi sama pun kau
Tempat kembaliku dulu adalah rumah sederhana
Dan kini hanya pengasingan

Aku kan membawa sampanku jauh
Bukan terasing sahabaku
hanya mengkoreksi apa salah daku

Bila esok lagi ku kan berlabuh
Hanya harapan kecil
ku tak lagi terasing

-Dipta

Rabu, 13 Juni 2012

Cinta Dalam Gelisah

Sersan berkata dalam suasana duka
"Mak suamimu sudah pulang
Bawalah anakmu ke stasiun kereta
Dia selalu menanyaimu di medan perang"

Bapak pulang?
Akan ada kolak segar dimeja
Tempe dan sambal kegemaranya
Akan kubawa juga buah hati yang telah lahir saat dia tak ada

Terbayang sudah penantian tiga tahun lamanya
Kita akan becengkrama dimeja tua
dengan makanan yang seadanya
Nak, bapak akan pulang nak

Aku menunggu di peron
Mencari gerbong suamiku
Nampaknya masih menuju kemari karna palang belum naik
Peron tak lekas sunyi

"Mak palangnya naik mak, bapak mak!!"
Segera aku berdiri dan menghampiri gerbong terakhir
Peron sudah sepi, lalu apalagi?
Suami-suami telah menemui anak dan istri

Sekarang giliranku
Suamiku pulang dari kejamnya pertempuran
Kan kupastika ini bukan gerbong kantung mayat
Nak, bapak akan pulang

Lelaki lain turun
Jumlahnya banyak tapi tak satupun nampak seperti bapak
Hingga yang terakhir telah turun menuju istri yang menunggunya
Sersan tua datang sedang anak ku gelisah

Ia merangkul pundak ku dan mengajak ku menepi
Matanya sayu dan pucat pasi

Anak-anak ku menghampiri
Riuh riuh pertanyaan anak kecil
Kubelai rambutnya satu persatu
Mereka pikir semua baik karena sang ibu tersenyum

Bapak sudah pulang
Bersama tentara lainnya
Dikeabadian nanti pak
Kita bertemu lagi

Senin, 11 Juni 2012

Tuhan Telah Membantumu, Sesan

Sesan...
Itu ada sepiring nasi beserta lauk pauknya
Disertai segelas air putih dikirinya
Dengan sup bergizi disamping kananya

Sesan...
Ambil sendok untuk semua
Mari kita beramai-rami bercanda
Kita diberkahi dengan adanya hidangan lezat

Sesan, kenapa kau tidak makan?
Apa kurang hidangan yang kusiapkan?
Atau ini semua tidak cukup banyak?
Apa kau belum cukup puas?

Sesan sesan
Lalu apa yang bisa kau beri buat mereka?
Anak istrimu kelaparan dan yang satu busung lapar
Kau menolak keramahanku tuk secuil harga dirimu yang lusuh kah?

Aku tidak berdiri diatas mu sesan
Kita semua sama di mata Tuhan
Tak perlu merasa kecil begitulah
Anak istrimu membutuhkan

Masih tidak mau juga?
Masih tidak mau ha?!

Baiklah sesan
Terserah harga dirimu saja
Biar kuberi anak istrimu makan
Bergabunglah jika harga dirimu juga kelaparan

-DIPTA-

Minggu, 10 Juni 2012

Namun Jika


Bukankah cahaya dalam gelap adalah sebuah jawaban?
Harap apakah kau saat cahayanya tak lama?
Mencaci? atau hanya duduk diam?
Namun jika kau belum tergerak tuk temui  cahaya lain, kau berada dalam keremangan

Bukankah duri dalam daging adalah kematian?
Ia memaksa masuk hingga ke tulangmu
Ia membunuhmu perlahan sampai pada kelopakmu menutup
Namun jika kau belum tergerak tuk mengeluarkanya, kau rapuh

Bukankah tak ada yang dapat merubah nasib suatu bangsa
Selain bangsa itu sendiri
Bukankah kemerdekaan itu kekal dalam diri
Bukankah tiap rasa dunia adalah pemanis?

Oh tidak
Bagi mereka yang hanya menggantungkan nasibnya pada yang lain
Bagi mereka yang hanya bersimpuh tunduk tuk sesuap nasi basi
Rasa dunia hanya secangkir kopi pahit

Maka berikanlah gula dalam cangkirmu
Itu kan lebih baik untuk diminum
Meskipun hanya sejumput
Nikmati sajalah, toh ada rasa manis dalam kopimu

Namun jika kau puas dengan sejumput mu
Maka hidupmu hanya itu

-DIPTA 



Sabtu, 09 Juni 2012

Friend Quote

~Kebahagiaan sahabat maka kebahagiaan mu juga, pun sebaliknya.

~Kita sulit melawan kesepian seorang diri, disampingmu berdirilah sahabat - sahabatmu yang akan membantumu.

~Jangan kecewakan mereka, atau semua akan berubah.

~Aku memiliki seseorang, yg selalu ada, selalu membuat tertawa, dan kami melakukan hal konyol bersama. Dia Sahabat-sahabatku.