Laman

Jumat, 11 Oktober 2013

Cara Mudah Bikin Puisi (ii)

Dulu banjir katamu menggenang
Lalu kenapa,
Karna sebuah cuma
Kau keringkan segala genang
Hingga sebatas kenang?

-dipta

Akulahmu (Kaulahku)

Kekasih, aku tiada puisi lama
Akulahmu merimba di dada tanpa kemeja
Ulahmu loloskan kancing dari mata tanpa bola
Lupalah aku segala tepi dari serikat cuma
Akulahmu, setubuh adu jiwa dari yang jauh.
Hujan engahkan kita, kasih.
Kasak-rusuk disebujur kapuk
Uapkan rindu disegala yang lapuk.

Kamis, 19 September 2013

Anginkan Mengapamu di Sayup Resahku.

Aku penanda nyeri
Lukamu tak semenyenangkan punyaku
Yang beranak-pinak di malam hari
Yang jadi sebab tiap terkesiap
Ialah jawaban
Dari mengapa-mengapaku
Ya, mengapa.
Sepiku malah tumpukan pembicaraan alot
Sedang sepimu cuma sendiri
Kau bisa, mengopi di pelataran
Dengan jiwamu yang lain.
Ya mengapa.
Sepiku malah adu cicit
Berebut sangkar padahal sebaik rumah,
hanya seikat dari serikat.
Nyerimu tak semenyenangkan punyaku.
Sepimu tak segetir malamku.
Mengapa, ya.

-dipta


Minggu, 25 Agustus 2013

Aku Tahu

Sesal tiada sekedar
Sadar melumut waktu
Atau nasi basi
Di jamuan kenangan

-dipta

Sabtu, 03 Agustus 2013

Sabda Laut

Kini laut dapat mencium utuh
Bulan yang tidak sabit
Bukan berarti melangkahi langit
Ia bukan segolongan picik di titik pulau sana
Dengan riaknya ia mencumbu
Di geladak ini
Ia lebih tidak peduli
Ada sebuah atau seubah
Lelaki yang menatapnya iri
"Semua tak luput dari laku luka rintang", katanya
"Kekasihku tiada turun dengan titian
Sedang aku tak dapat membawa tangis kesisi anggunnya
Yang jadi musal lautku
Meski segumpal dengki hitam awan tak merestu
Dan seputar angin memusar nanah letihku
Kekasihku masih mengecup kening
Cinta tiada karena
Walau sebisanya beri bayang di bentang cermin
Tuhan tak alpa ingatkan jua
Kekasihku tak mungkin bersanding dibawah
Meski demikian Tuhan restui dia
Memendar belai keperakan
Yang tiadanya lautku kering
Menguap hujan
Dikemarau panjang


-dipta

Minggu, 28 Juli 2013

DAN BULANPUN TERJATUH

Dalam tatapan nelangsa
Kemanusiaanku mengibakan engkau
Sebegitukah ketiadaan menggelapkanmu?
Demikian kau rangkul bulan dari langitnya
Menariknya masuk ke pintu gubukmu
Sementara aku mengadah pada malam
Tentang bulan yang ingkar
Kami tidak bertengkar tapi dia hilang sangkar
Sudah 3 musim kita berlalu
kemanusiaanku padamkan letusan gunung
Aku tak pernah damai
Hingga ikhlaskan ia tak lagi bertengger
Di ranting Stratus
Keanggunannya akan selalu tetap melengkung
Meski kenakan baju badut
Dengan pendar keperakan ia menari
Di gubukmu

-Dipta

Sabtu, 27 Juli 2013

Mantra

Pagi pukul 7
Disekolah aku tidak belajar
Apalagi mengerjakan tugas
Bukuku basah, kena air mata

Ibu guru tidak pernah bertanya
Tahu-tahu mama papa bikin pesta
Padahal baru berlempar perabotan
Katanya aku pintar, nilainya biru semua

-dipta