Aku penanda nyeri
Lukamu tak semenyenangkan punyaku
Yang beranak-pinak di malam hari
Yang jadi sebab tiap terkesiap
Ialah jawaban
Dari mengapa-mengapaku
Ya, mengapa.
Sepiku malah tumpukan pembicaraan alot
Sedang sepimu cuma sendiri
Kau bisa, mengopi di pelataran
Dengan jiwamu yang lain.
Ya mengapa.
Sepiku malah adu cicit
Berebut sangkar padahal sebaik rumah,
hanya seikat dari serikat.
Nyerimu tak semenyenangkan punyaku.
Sepimu tak segetir malamku.
Mengapa, ya.
-dipta
bukanlah seorang penuh luka yang tak selalu terluka. bukanlah amatir yang pandai menyerap tafsir yang tak pernah memaknai pelesir.
Kamis, 19 September 2013
Minggu, 25 Agustus 2013
Sabtu, 03 Agustus 2013
Sabda Laut
Kini laut dapat mencium utuh
Bulan yang tidak sabit
Bukan berarti melangkahi langit
Ia bukan segolongan picik di titik pulau sana
Dengan riaknya ia mencumbu
Di geladak ini
Ia lebih tidak peduli
Ada sebuah atau seubah
Lelaki yang menatapnya iri
"Semua tak luput dari laku luka rintang", katanya
"Kekasihku tiada turun dengan titian
Sedang aku tak dapat membawa tangis kesisi anggunnya
Yang jadi musal lautku
Meski segumpal dengki hitam awan tak merestu
Dan seputar angin memusar nanah letihku
Kekasihku masih mengecup kening
Cinta tiada karena
Walau sebisanya beri bayang di bentang cermin
Tuhan tak alpa ingatkan jua
Kekasihku tak mungkin bersanding dibawah
Meski demikian Tuhan restui dia
Memendar belai keperakan
Yang tiadanya lautku kering
Menguap hujan
Dikemarau panjang
-dipta
Bulan yang tidak sabit
Bukan berarti melangkahi langit
Ia bukan segolongan picik di titik pulau sana
Dengan riaknya ia mencumbu
Di geladak ini
Ia lebih tidak peduli
Ada sebuah atau seubah
Lelaki yang menatapnya iri
"Semua tak luput dari laku luka rintang", katanya
"Kekasihku tiada turun dengan titian
Sedang aku tak dapat membawa tangis kesisi anggunnya
Yang jadi musal lautku
Meski segumpal dengki hitam awan tak merestu
Dan seputar angin memusar nanah letihku
Kekasihku masih mengecup kening
Cinta tiada karena
Walau sebisanya beri bayang di bentang cermin
Tuhan tak alpa ingatkan jua
Kekasihku tak mungkin bersanding dibawah
Meski demikian Tuhan restui dia
Memendar belai keperakan
Yang tiadanya lautku kering
Menguap hujan
Dikemarau panjang
-dipta
Minggu, 28 Juli 2013
DAN BULANPUN TERJATUH
Dalam tatapan nelangsa
Kemanusiaanku mengibakan engkau
Sebegitukah ketiadaan menggelapkanmu?
Demikian kau rangkul bulan dari langitnya
Menariknya masuk ke pintu gubukmu
Sementara aku mengadah pada malam
Tentang bulan yang ingkar
Kami tidak bertengkar tapi dia hilang sangkar
Sudah 3 musim kita berlalu
kemanusiaanku padamkan letusan gunung
Aku tak pernah damai
Hingga ikhlaskan ia tak lagi bertengger
Di ranting Stratus
Keanggunannya akan selalu tetap melengkung
Meski kenakan baju badut
Dengan pendar keperakan ia menari
Di gubukmu
-Dipta
Kemanusiaanku mengibakan engkau
Sebegitukah ketiadaan menggelapkanmu?
Demikian kau rangkul bulan dari langitnya
Menariknya masuk ke pintu gubukmu
Sementara aku mengadah pada malam
Tentang bulan yang ingkar
Kami tidak bertengkar tapi dia hilang sangkar
Sudah 3 musim kita berlalu
kemanusiaanku padamkan letusan gunung
Aku tak pernah damai
Hingga ikhlaskan ia tak lagi bertengger
Di ranting Stratus
Keanggunannya akan selalu tetap melengkung
Meski kenakan baju badut
Dengan pendar keperakan ia menari
Di gubukmu
-Dipta
Sabtu, 27 Juli 2013
Mantra
Pagi pukul 7
Disekolah aku tidak belajar
Apalagi mengerjakan tugas
Bukuku basah, kena air mata
Ibu guru tidak pernah bertanya
Tahu-tahu mama papa bikin pesta
Padahal baru berlempar perabotan
Katanya aku pintar, nilainya biru semua
-dipta
Disekolah aku tidak belajar
Apalagi mengerjakan tugas
Bukuku basah, kena air mata
Ibu guru tidak pernah bertanya
Tahu-tahu mama papa bikin pesta
Padahal baru berlempar perabotan
Katanya aku pintar, nilainya biru semua
-dipta
Pelajaran dari Sebait
Sejauh kilometer untuk meraih
Pulang hanya memanggul letih
Perjalanan tak pernah sia-sia
Kamu percaya?
*lanjut nulis*
-dipta
Pulang hanya memanggul letih
Perjalanan tak pernah sia-sia
Kamu percaya?
*lanjut nulis*
-dipta
Pulang
Kenapa mesti bersebrangan?
Mari meneduh
Sepayung kita lalui setapak waktu
Irama langkah menjadi notasi sebuah tawa
-dipta
Mari meneduh
Sepayung kita lalui setapak waktu
Irama langkah menjadi notasi sebuah tawa
-dipta
Langganan:
Postingan (Atom)