Laman

Minggu, 25 Agustus 2013

Aku Tahu

Sesal tiada sekedar
Sadar melumut waktu
Atau nasi basi
Di jamuan kenangan

-dipta

Sabtu, 03 Agustus 2013

Sabda Laut

Kini laut dapat mencium utuh
Bulan yang tidak sabit
Bukan berarti melangkahi langit
Ia bukan segolongan picik di titik pulau sana
Dengan riaknya ia mencumbu
Di geladak ini
Ia lebih tidak peduli
Ada sebuah atau seubah
Lelaki yang menatapnya iri
"Semua tak luput dari laku luka rintang", katanya
"Kekasihku tiada turun dengan titian
Sedang aku tak dapat membawa tangis kesisi anggunnya
Yang jadi musal lautku
Meski segumpal dengki hitam awan tak merestu
Dan seputar angin memusar nanah letihku
Kekasihku masih mengecup kening
Cinta tiada karena
Walau sebisanya beri bayang di bentang cermin
Tuhan tak alpa ingatkan jua
Kekasihku tak mungkin bersanding dibawah
Meski demikian Tuhan restui dia
Memendar belai keperakan
Yang tiadanya lautku kering
Menguap hujan
Dikemarau panjang


-dipta

Minggu, 28 Juli 2013

DAN BULANPUN TERJATUH

Dalam tatapan nelangsa
Kemanusiaanku mengibakan engkau
Sebegitukah ketiadaan menggelapkanmu?
Demikian kau rangkul bulan dari langitnya
Menariknya masuk ke pintu gubukmu
Sementara aku mengadah pada malam
Tentang bulan yang ingkar
Kami tidak bertengkar tapi dia hilang sangkar
Sudah 3 musim kita berlalu
kemanusiaanku padamkan letusan gunung
Aku tak pernah damai
Hingga ikhlaskan ia tak lagi bertengger
Di ranting Stratus
Keanggunannya akan selalu tetap melengkung
Meski kenakan baju badut
Dengan pendar keperakan ia menari
Di gubukmu

-Dipta

Sabtu, 27 Juli 2013

Mantra

Pagi pukul 7
Disekolah aku tidak belajar
Apalagi mengerjakan tugas
Bukuku basah, kena air mata

Ibu guru tidak pernah bertanya
Tahu-tahu mama papa bikin pesta
Padahal baru berlempar perabotan
Katanya aku pintar, nilainya biru semua

-dipta



Pelajaran dari Sebait

Sejauh kilometer untuk meraih
Pulang hanya memanggul letih
Perjalanan tak pernah sia-sia
Kamu percaya?

*lanjut nulis*
-dipta

Pulang

Kenapa mesti bersebrangan?
Mari meneduh
Sepayung kita lalui setapak waktu
Irama langkah menjadi notasi sebuah tawa
-dipta

Selasa, 09 Juli 2013

Separuh Pergi

Selupanya aku mengingat
Ia tak disebut manusia tanpa hatinya
Seumpama catur tanpa anak bidaknya
Kita tak beda jua
Perihal kodrat dan tata aturan
Adam dan hawa
Menikahi cinta merawatnya hingga usia tua
Mengandung kasih yang tak bisa didebat lagi
Dan dicerita yang baru berawal
Secangkir murni kebahagiaan diteguk tuntas
Tak lagi mengenal cangkir yang berbatas
Harusnya tak usah buang waktu
Ceritakan kisah ini padamu
Katanya kisah kita mirip jua
Mirip apanya?
Mirip diawal?
Diusia yang bukan lagi daun muda
Kamu mengertikah?
Tatkalala cincin memeluk erat sang jari manis
Cinta tak lagi seuntai prolog tua
Harusnya diusia yang tak lagi prima kamu telah paham
Mengapakah kesedihanku jadikan langit-langit hati ini mendung
Harusnya kisah ini tak berepilog layak air asin dan air tawar
Kemana pula cintamu melaut?
Bersegeralah pulang kerumah
Memperbaiki atap yang kan memayungi kita
Dari badai kesedihan apapun
Kita kan berpayung berdua
Bukan karna pahitnya kopi yang tergula tak terlalu manis
Lalu menjadikanmu kesetanan
Aku akan menambahkan gulanya kemudian
Atau memperbaiki genting sendirian
Tapi pulanglah
Aku dan cinta-cinta kita yang masih kanak-kanak
Menunggu resah dirumah

-dipta