Laman

Selasa, 09 Juli 2013

Separuh Pergi

Selupanya aku mengingat
Ia tak disebut manusia tanpa hatinya
Seumpama catur tanpa anak bidaknya
Kita tak beda jua
Perihal kodrat dan tata aturan
Adam dan hawa
Menikahi cinta merawatnya hingga usia tua
Mengandung kasih yang tak bisa didebat lagi
Dan dicerita yang baru berawal
Secangkir murni kebahagiaan diteguk tuntas
Tak lagi mengenal cangkir yang berbatas
Harusnya tak usah buang waktu
Ceritakan kisah ini padamu
Katanya kisah kita mirip jua
Mirip apanya?
Mirip diawal?
Diusia yang bukan lagi daun muda
Kamu mengertikah?
Tatkalala cincin memeluk erat sang jari manis
Cinta tak lagi seuntai prolog tua
Harusnya diusia yang tak lagi prima kamu telah paham
Mengapakah kesedihanku jadikan langit-langit hati ini mendung
Harusnya kisah ini tak berepilog layak air asin dan air tawar
Kemana pula cintamu melaut?
Bersegeralah pulang kerumah
Memperbaiki atap yang kan memayungi kita
Dari badai kesedihan apapun
Kita kan berpayung berdua
Bukan karna pahitnya kopi yang tergula tak terlalu manis
Lalu menjadikanmu kesetanan
Aku akan menambahkan gulanya kemudian
Atau memperbaiki genting sendirian
Tapi pulanglah
Aku dan cinta-cinta kita yang masih kanak-kanak
Menunggu resah dirumah

-dipta


Minggu, 07 Juli 2013

rĂªve

           Untuk menangkap bintang, terlebih dahulu tataplah langit. Kalimat pelangi itulah yang menyusup ke kepalaku dipenghujung liburan sekolah bulan juli ini. Time flies, tahu-tahu udah duduk dibangku tertinggi sekolah menengah aja. Aku bukan ditaman karavan lagi. Bukan waktu yang tepat untuk unjuk ke-akuan untuk hal kekanak-kanakan. Sekali lagi, time flies, nggak ada kompensasi atau tawar menawar sama nirlaba yang satu ini.

          Ada hal yang lebih serius dari yang terserius. Sebuah prioritas, adalah impian dan cita-cita. Nggak ada apapun yang perlu dikalkulasi untuk mereka. Mereka sebuah rangkaian pengorbanan. Dimana hukum sebab-akibat menjadi bayangan. Bisa menjadi petunjuk arahmu, karna bayangan tak jauh dari cahaya. Atau mereka menjadi ketakutanmu, apapun itu bayangan selalu tampak menakutkan.

          Mau jadi apa kita nanti, atau apa hal pertama yang akan kita lakukan. Yang pasti di umur termanis sepanjang untaian nafas ini, chekclist udah harus dimatangkan. Dari semua checklist itu, the most important thing is, terus berjuang.

           Mau jadi apa kita nanti, atau hal apa yang pertama kali akan dilakukan. Aku rasa semua jawaban, kita semua udah punya. Menunggu angin berhembus dan cuaca yang cerah untuk memulai, menurutku bukan awal yang bagus. Tapi berlari ditengah deras hujan saat semua meneduh, jika terus dimudahkan, bukankah hal mudah sekalipun suatu saat tak bisa dikerjakan?

-dipta

Selasa, 02 Juli 2013

Black Rose

Gue bersyukur banget bisa menuang apapun yang dikepala jadi deretan kata. Kalo galau nggak bingung mesti nyembuhin ati dimana. Nggak repot nenangin pikiran yang beranting sampai keujung dunia.

Ada api yang bikin gue berasap malam gerimis ini sih. Jadi kali ini Trans Tv lagi muterin Spiderman 3. Biasanya gue nggak pernah ketinggalan, tapi kali ini ngelirik filmnya aja kagak. Bagi gue film itu bukan prioritas dibandingkan bisa online lagi selama semingguan off karna laptop ngadat.

Waktu itu pukul 9, gerimis udah nggak malu-malu lagi. Dia makin ngeboyong temen-temennya bikin malam jadi tambah merinding. Saat itu tanggal 2 juli, sekaligus hari lahir gue. Twitter gue lagi penuh ngebalesin mention-mention follovers yang care ngasih happy sweet17th ke gue. Pas udah agak kendoran, iseng-iseng deh bukain twitter orang. Stalking sama kepo sedekat jantung sama detaknya. Seakrab cinta sama rasa rindunya. Inget itu.

Nah, disitu gue pantengin avanya. Cewek cantik udah mengalihkan lingkaran tangan doi yang dulu sempet diisi berjibun cewek lain (atau mantan gebetan dia). Gue udah ngira ini cewek pasti pacarnya. Tapi gue tetep bandel nggak dengerin hati yang udah garuk-garuk tembok nahan luka yang diciptakan kenangan lama, kenangan lama yang tertanam cukup dalam.

Penyesalan emang kaya masakan yang udah hangus. Akhirnya gue terhenti di salah satu tweet simple tapi cukup hebat bikin jahitan yang belum kering terobek lagi. Dan disinilah gue dapat banyak misbah dari hati yang compang-camping tapi tetep gue paksain untuk dateng ke sebuah resepsi terisi sama kaum elite.

1. Jangan kepo kalo masih sayang
2. Hindari kepo untuk mencegah kekecewaan
3. Haram mengabaikan lampu kuning, kalo engga lu bakal stuck lebih lama dijalan karna ketilang sama kesalahan lo sendiri
4. Waktu bukanlah ibu, sembuhkan lukamu sendiri -donnjuan, ada benernya. sampe kapan lu mau nunggu waktu. belum tentu dia berpihak ke elo kan?
5. Gue ngerti "mantan terlihat lebih menarik -donnjuan". Tapi ibarat piring beling yang udah jadi kepingan terus setengah mati lo satuin semuanya lagi. Kaya udah sabar-sabar menanam tapi yang lo dapet cuman setangkai duri mawar tanpa kembangnya.

Secangkir kopi tanpa gula malam ini cukup ya. Getirnya udah terasa diisapan pertama. Besok-besok kalo gue mau bikin kopi, gue gak akan lupa nambahin gulanya.

-yang lagi sibuk edan ngalur ngedul, Dipta.

ps: aku namain black rose, karna red rose udah pensiun.

Senin, 24 Juni 2013

Cinta Itu Simpel

Tiap cinta megedip
Disitulah senja melabuh
Saat cinta tersenyum
Dipekat malam bulan memayung

-dipta

Sajak Langka

Seribu tahun ku tak bersajak
Bukan berarti laut telah mengering
Namun hujan terus jatuh dipelupuk mata
Membuat tangan yang tadinya ingin menulis
Malah mengusap lembut kedua pelipis

-Dipta

Sabtu, 13 April 2013

AKU INGIN KEMBALI PULANG

Aku punya cerita pengantar tidur
Kisahnya layak sebilah pedang panjang.
Yang jika menusuk dapat tertembus.
Rasanya sakit, tapi tak sesakit rasa rindu.
Teramat rindu tapi tak se-arogan perpisahan.
Berawal dari tali persaudaraan,
Bermuara pada kebencian yang dipaksakan.
Berujung ditajam tombak
Berakhir dengan darah dipelupuk mata
Klimaks oleh ketidaksepemahaman
Dan dua tokoh diantaranya amat tersiksa
Mereka dipaksa untuk membenci
Sedangkan kedua hati miliknya lebih merindu
Skenario yang dikenal seantero
Naskah kejam milik si pembuat jahat
Memisahkan dua gadis kecil yang dulu bermain boneka diberanda
Yang tiap malam tidur seguling sebantal
Tiap makan sepiring berdua
Ada tangis, kesal, dan tawa
Yang kesemuanya dipikul bersama
Cuma berujung ditajam tombak
Saling menikam
satu didada
satu dikepala
Dan ini adalah pengantar tidur terbaik sejagat
Karna aku tak bisa terjaga dibuatnya
Karna kehidupan
Tidak mengizinkan indahnya mimpi menghibur lara
Meski hanya bermimpi untuk kembali bersama

-dipta

ps. Untuk saudara perempuan ku nan jauh, meski kita sedang berpelukan. Aku tahu darah milik kita, takkan pernah berkesinambungan. Darah kita sudah terurai. Salah satunya jadi cerita. Hanya sebuah cerita. Bukan Cinta.



Sabtu, 06 April 2013

Sejatinya Manusia

Layaknya mawar dengan duri
Selamanya senyum mu warnai hari
Seolah air memeluk mesra sang api
Tawamu kekal disamping Sang Abadi

Apalah arti seolah
bagaikan, layaknya, umpama, menyerupai, seperti, seolah, seolah, seolah!
Tapi topeng itu punya isyarat lain
Entah isyarat entah dusta, entah membohongi, entah menutupi, entah mana lagi

Bukan aku mengajari berpura-pura mengalir saja otak timun ini
Bukan juga menasehati, aku tidak munafik
Aku tidak pintar
Aku bukanlah singa yang tinggi hati dengan surainya

Tapi jangan hingga!
Wajah dua milikmu mencambukmu
kepura-puraan itu tak boleh menyayati, menyakiti, menyiksa!
Jangan biarkan dia merengkuhmu dalam-dalam, dan, tenggelam

Aku bukan sok tahu
Memang apa yang kutahu?
Hanya saja kau belum berhasil menipuku seperti yang lain
Senyummu, tawamu,candamu, tak bisa kelabuhiku

Kau bisa
Tutupi semuanya
Tapi kau juga bisa
berperilaku seperti manusia

Menangis
Mengaduh
Atau berhenti tersenyum untuk beberapa menit
Bila hatimu pula tak cukup mampu, untuk kau dustai

-dipta