bukanlah seorang penuh luka yang tak selalu terluka. bukanlah amatir yang pandai menyerap tafsir yang tak pernah memaknai pelesir.
Kamis, 29 Januari 2015
You Don't Think I Know What You've Done
Hi, long time no see. Perhaps you still remember me, a little girl with kindness for weakness. I know i shouldn't think like that but sometimes it's true. Sometimes if you trust too much you'll get hurt so much. Sometimes if you give much kindness, people can see your weakness. And they will make strategy to stab you. I told you because it was happened to me, and i wont it happen to you. I spend my 3 years for tears. Manything happened to me. I can't told you, it's a terrible story that you never want to hear. I'd lost what i love the most, my dad, my sister, my smile, my hope, my day, they took them away. They stoled my little sun, my little world. My world was broken. You can't imagine how terrible it was. I still remember when i cried while i slept. When i couldn't sleep well in every night. When my morning was so grey, my afternoon was so blue and my night suchlike a nightmare. But i know Allah will not leave me like that. Allah will not give me a problem that i can't handle. There's always the way, there is always hope. I rised from the ground, tried to passed the way surely. Until now, i still felt that sharp pebbel on my feet. But it's ok, it's prove that what happened to me is real. Now, no more sadness no more tears. What i want to tell you is no matter what happend to you, no matter how terrible it is. Keep your hope on fire, keep your eyes open. Don't ever give up. Promise your self not to give up. You are what you had got for life. If you get nothing, then you are nothing. My spirit is, i wanna show everyone who underestimate to me that i can get better even many terrible things punch me. You cannot underestimate to me, you are not the best and i'm not the most good. But i can promise my self, i never give up. I never let you affect aand stab me. I am Stronger and braver than you think. Regrads, the girl who has changed. Dipta.
Sabtu, 25 Oktober 2014
At Last
manything happened in my life, bitter, sweetest, happiness,experiences, memories, i think those are important more than my soul and my money. manything happened in my life, i didn't believe i can passed that big waves. where did the powers came from, when i felt down and stressed i was rising from the ground. who was gave me that powers? here they are, for you all my beloved family and my best friend i thank you for your sacrifaced, your support, and your love. happy ever after for all of you my dearest, together we can, the world such a coffee in a whole of cup.
Selasa, 04 Maret 2014
Aku Bukan Pilihan
Kini kumengungkap tanya
Siapakah dirinya?
Yang mengaku kekasihmu itu
Aku tak bisa memahami
Ketika malam tiba
Ku rela kau berada
Dengan siapa kau melewatinya
Aku tak bisa memahami
Aku lelaki tak mungkin
Menerima bila
Ternyata kau mendua
Membuatku terluka
Tinggalkan saja diriku
Yang tak mungkin menunggu
Jangan pernah memilih
Aku bukan pilihan
Selalu terungkap tanya
Benarkah kini ada
Wanita yang kukenal hatinya
Aku tak bisa memahami
Tak perlu memilihku
Aku lelaki, bukan untuk dipilih
- Iwan Fals
Siapakah dirinya?
Yang mengaku kekasihmu itu
Aku tak bisa memahami
Ketika malam tiba
Ku rela kau berada
Dengan siapa kau melewatinya
Aku tak bisa memahami
Aku lelaki tak mungkin
Menerima bila
Ternyata kau mendua
Membuatku terluka
Tinggalkan saja diriku
Yang tak mungkin menunggu
Jangan pernah memilih
Aku bukan pilihan
Selalu terungkap tanya
Benarkah kini ada
Wanita yang kukenal hatinya
Aku tak bisa memahami
Tak perlu memilihku
Aku lelaki, bukan untuk dipilih
- Iwan Fals
Minggu, 02 Maret 2014
The Important of Mastering Foreign Languanges
Many people have learned foreign languanges in their country. Others lerned it in the country which they are spoken. Learning foreign languanges is important. Somebody must can speak minimal one languange. More languanges the can mastered it will be very good.
This is the possible reasons why did they do that. First, mastering foreign languanges is needed in globalization. Globalization means every people in the world can meet, talk, and make agreement easier than before. Mastering foreign languanges can very useful for us to adaptation.
Second, it will facilitate us to connect with other bussines, people or looking for a job. If we can speak more than one languange, imagine we can make many relations which bring us in succeses.
Third, mastering foreign languanges makes especially value because we know more information and being uptodate. So we get respect from other and people cannot underestimate to us.
Well, i prefer to mastering my foreign languanges. Do you?
-dipta
This is the possible reasons why did they do that. First, mastering foreign languanges is needed in globalization. Globalization means every people in the world can meet, talk, and make agreement easier than before. Mastering foreign languanges can very useful for us to adaptation.
Second, it will facilitate us to connect with other bussines, people or looking for a job. If we can speak more than one languange, imagine we can make many relations which bring us in succeses.
Third, mastering foreign languanges makes especially value because we know more information and being uptodate. So we get respect from other and people cannot underestimate to us.
Well, i prefer to mastering my foreign languanges. Do you?
-dipta
Why Should We Choose Famous University
After we passed national examination we will continue the new level in university. People usually choose universities which are well known. Why should we choose famous universitiy?
Well, choosing university need to be consider about the quality. First, famous university actually have complete facilities so we can improve our talents.
Second, famous university usually theaced by quality lecturer so we get a great counseling. You can make discussion about your plans in future.
Last but not least, Famous universitiy followed by the offered of bussines which are give you a chance to make your dreams come true.
-dipta
Well, choosing university need to be consider about the quality. First, famous university actually have complete facilities so we can improve our talents.
Second, famous university usually theaced by quality lecturer so we get a great counseling. You can make discussion about your plans in future.
Last but not least, Famous universitiy followed by the offered of bussines which are give you a chance to make your dreams come true.
-dipta
Kamis, 27 Februari 2014
Di Salon Kecantikan
"klinting"
ah... aku baru saja sarapan
sebungkus jerit lengkap dengan sebab-sebabnya.
"mau di poles bagaimana mbak?"
''pokoknya bikin wajah saya
seperti jalan beraspal bebas terjal.
bikin daun yang mandi embun
iri dengan kulit saya.
masalah kertas angka yang biru-biru itu,
kamu tiggal pesan".
tepat sasaran, saya bakal bancakan lagi sama teman-teman.
kubimbing ibu tadi,
eh maaf, mbak yang ingin menambah molek,
masuk ke ruang perawatan.
"kali ini segala yang buram di suram wajah saya,
akan terhapus rekam jejaknya". katanya mantap.
maka kukerjakan seni yang menunggu didepanku.
sepuluh menit pertama ia hanya menyerngit.
sepuluh menit kedua ia merintih letih.
sepuluh menit ketiga air paling murni mengalir di kedua pipinya
yang telah bersih kucungkil risih-risih.
"lanjutkan, lanjutkan," ucapnya.
sepuluh menit keempat ia mulai berteriak sakit kala kucabut
risau yang melebat di wajahnya.
aku heran mbak ini ingin bertahan.
"mbak prosesi telah usai," kataku kemudian.
melengganglah ia kedepan bayangannya.
"mengapa lebih cantik dia?
saya sakit-sakit disitu dan hanya sebegini saja?
mana bisa yang lain tertarik?
yasudah besok saya datang lagi,
buat wajah saya seolah aspal tanpa terjal,
daun yang mandi embun iri dengan wajah saya,
dan cantik ini tak boleh lenyap pukul 12 malam."
"klinting" ia pergi dengan cek sudah di meja.
seperti biasa secarik kertas lain terselip di belakang cek saya
katanya "tolong, saya ingin bebas".
-dipta
ah... aku baru saja sarapan
sebungkus jerit lengkap dengan sebab-sebabnya.
"mau di poles bagaimana mbak?"
''pokoknya bikin wajah saya
seperti jalan beraspal bebas terjal.
bikin daun yang mandi embun
iri dengan kulit saya.
masalah kertas angka yang biru-biru itu,
kamu tiggal pesan".
tepat sasaran, saya bakal bancakan lagi sama teman-teman.
kubimbing ibu tadi,
eh maaf, mbak yang ingin menambah molek,
masuk ke ruang perawatan.
"kali ini segala yang buram di suram wajah saya,
akan terhapus rekam jejaknya". katanya mantap.
maka kukerjakan seni yang menunggu didepanku.
sepuluh menit pertama ia hanya menyerngit.
sepuluh menit kedua ia merintih letih.
sepuluh menit ketiga air paling murni mengalir di kedua pipinya
yang telah bersih kucungkil risih-risih.
"lanjutkan, lanjutkan," ucapnya.
sepuluh menit keempat ia mulai berteriak sakit kala kucabut
risau yang melebat di wajahnya.
aku heran mbak ini ingin bertahan.
"mbak prosesi telah usai," kataku kemudian.
melengganglah ia kedepan bayangannya.
"mengapa lebih cantik dia?
saya sakit-sakit disitu dan hanya sebegini saja?
mana bisa yang lain tertarik?
yasudah besok saya datang lagi,
buat wajah saya seolah aspal tanpa terjal,
daun yang mandi embun iri dengan wajah saya,
dan cantik ini tak boleh lenyap pukul 12 malam."
"klinting" ia pergi dengan cek sudah di meja.
seperti biasa secarik kertas lain terselip di belakang cek saya
katanya "tolong, saya ingin bebas".
-dipta
Rabu, 19 Februari 2014
SEGALA-KU SEMUA-MU
kubiarkan kau tanggal dikelopakku menuju tinggal dikelopak yang lain. yang entah lebih harum ciumnya, lebih manis senyumnya, atau lebih selain lebih yang kupunya. tentu aku melihatmu menyebrang menuju bunga itu, kepakmu antusias seperti melihat rumah dari perjalanan panjang. bersamaku memang melelahkan, seperti kau pulang tanpa pergi, seperti kau pergi menuju pulangmu sendiri. kubiarkan lentera kasih mu padam diranah masih. aku ingin lihat senyummu menyala solah sumbu terendam minyak. seandainya disanapun kau tidak juga bahagia, maka kau cabut aku dari tanah yang kucintai. karna segala yang kupunya ada di sudut matamu. yang bila mencair, aku juga berakhir.
-dipta
-dipta
Senin, 30 Desember 2013
Bila Aku Jatuh Cinta
Aku terjaga dari suaramu
Ditengah keramaian
Di padat keheningan
Seperti tik-tik hujan
dan tik-tok jam.
Seperti gemuruh
Di pesisir nyiur
tepat tepi bibirmu.
Aku ingat suaramu,
Yang berpora dari tumpukan bangkai
para lelaki yang kau koyak dadanya.
Suaramu itu air yang pintar memainkan alur.
Suaramu itu
Meresap di lubang-lubang dada
Koyak makin meruyak
Lalu menjilat darah sepenuh kawah.
Kering.
Kau beri kering.
Setelah mengecup kening.
Kau tinggalkan kawah para lelaki
Biarkannya luput dari genangan.
Dan kini aku tidur didadamu
Ibarat tanah di bulan mei aku menyerap suaramu.
Seperti tik-tok jam
Kecuali kalau hilang baterai,
Aku juga bangkai.
-dipta
Ditengah keramaian
Di padat keheningan
Seperti tik-tik hujan
dan tik-tok jam.
Seperti gemuruh
Di pesisir nyiur
tepat tepi bibirmu.
Aku ingat suaramu,
Yang berpora dari tumpukan bangkai
para lelaki yang kau koyak dadanya.
Suaramu itu air yang pintar memainkan alur.
Suaramu itu
Meresap di lubang-lubang dada
Koyak makin meruyak
Lalu menjilat darah sepenuh kawah.
Kering.
Kau beri kering.
Setelah mengecup kening.
Kau tinggalkan kawah para lelaki
Biarkannya luput dari genangan.
Dan kini aku tidur didadamu
Ibarat tanah di bulan mei aku menyerap suaramu.
Seperti tik-tok jam
Kecuali kalau hilang baterai,
Aku juga bangkai.
-dipta
Jumat, 27 Desember 2013
Kanvas Penyair
Yang kujual dari layar terpa ini
Semua lukisan yang juga sudah kupoles
Kau bisa lihat
Bagaimana aku mulai merangkai
Garis-garis tempat kata-kata menetap.
Setiap waktu punya warna arsirnya sendiri
Dan cinta tak lagi kubuat mawar melati
Atau darah, atau duri.
Melainkan persawahan didepan dua gunung kembar.
seperti saat guru taman kanak-kanak menyuruh muridnya:
"Anak-anak, coba gambarkan pemandangan alam".
-dipta
Semua lukisan yang juga sudah kupoles
Kau bisa lihat
Bagaimana aku mulai merangkai
Garis-garis tempat kata-kata menetap.
Setiap waktu punya warna arsirnya sendiri
Dan cinta tak lagi kubuat mawar melati
Atau darah, atau duri.
Melainkan persawahan didepan dua gunung kembar.
seperti saat guru taman kanak-kanak menyuruh muridnya:
"Anak-anak, coba gambarkan pemandangan alam".
-dipta
Kamis, 26 Desember 2013
Garis di Telapak Tanganku
Aku melihatnya sebagai sebuah papan permainan. Saling melempar dadu, menunggu giliran, menjalankan bidakmu. Semua hanya sebatas papan di atas meja permainan. Mungkin kau bisa melangkahkan anak bidakmu kedepan, mungkin berhenti ditempat, bahkan memundurkan langkah anak bidakmu. Dadu yang kau lemparkan bagai sebuah joker. Jika beruntung, joker akan menaungi lemparanmu. Dan mempercepat langkahmu menuju akhir. Mirip seperti ular tangga kan? Mungkin beginilah cara takdir bekerja padaku.
Untuk segala yang menempaku, aku penasaran: Bagaimana hariku akan melompati angka-angka pada kalender. Hal apa yang akan terjadi padaku nanti. Aku bertanya-tanya bagaimana hal ini akan berakhir. Sampai aku memijak garis akhir tepat dibawah kakiku. Dan kau bisa mengukur kemampuan petarung sepertiku. Apa ada air paling bening, yang membercak dipapan permainanmu?
-dipta
Untuk segala yang menempaku, aku penasaran: Bagaimana hariku akan melompati angka-angka pada kalender. Hal apa yang akan terjadi padaku nanti. Aku bertanya-tanya bagaimana hal ini akan berakhir. Sampai aku memijak garis akhir tepat dibawah kakiku. Dan kau bisa mengukur kemampuan petarung sepertiku. Apa ada air paling bening, yang membercak dipapan permainanmu?
-dipta
Selasa, 24 Desember 2013
Mémoire
Pukul 9 pagi saat aku telah selesai merimba di koran harian, selepas menyesap susu stroberi panas yang telah mendingin. Terdengar celetukan ringan yang cukup berat untuk ku resap artinya dari mulut adikku, "Bukannya hari ini dia ulang tahun?"
Ya, 6 kata barusan bagiku bermakna seribu. Aku tidak sengaja lupa, aktivitas baruku seolah menghapus semua data yang telah kusiapkan sejak lama. Segera kuambil ponsel yang kutinggalkan dikamar, lalu mencari namanya di kontak ponsel. Namun niat untuk mengirim pesan happy birthday kukaramkan. Bukan tanpa alasan, tentu saja aku tak melakukannya begitu saja. Hanya aku tidak ingin terlibat pembicaraan berdua dengannya, hanya berdua, bertiga dengan ponselku. Alih-alih mengirim pesan, aku mengetik user twitternya di penulisan status dan berkata "happy sweet seventeen for you, aku nggak ngirim selamat cuma-cuma ya, hehe". Send.
10.15, ketika aku tengah bergulat dengan sosial media yang lain untuk promo barang di toko onlineshopku. Nada dering nyaring terdengar dari ponsel yang kusendirikan di atas tumpukan kertas dan buku mata pelajaran, tanda adanya sms masuk. "Bisa kerumahku sekarang? Ibuku buat nasi kuning di hari ulang tahunku". Darahku berdesir luar biasa cepat, seperti naik wahana roler coaster, entah yang kamu rasakan takut atau senang. Tapi aku tak membalas pesannya, aku hanya menaruh ponsel itu kembali ketempat semula, atau bahkan lebih jauh. Aku tahu aku harusnya senang, tapi entahlah kenangan yang pernah kulalui dengannya membuatku terus menjaga jarak.
15 menit kedua setelah kuabaikan pesan itu, nada dering kembali terdengar panjang. telepon masuk, dari dia yang-tidak boleh-disebut-namanya. Keraguan kembali duduk di jemariku yang hendak menekan tombol jawab. Tidak, aku tidak menjawabnya.
Pukul 14.00, tepat saat aku telah selesai mengurus onlineshop dan novel yang sedang kukerjakan. ponsel kembali berdering, telfon masuk (lagi). Seolah aku tengah mengirim pesan langsung padanya, aku berkata dalam hati "Maaf, tapi tidakkah ini cukup? Bukannya aku tak mau bertemu, atau menghadiri ulangtahunmu. Hanya saja aku belum siap dan menyiapkan kata saat bertemu denganmu. Kita sudah usai, dan aku menyesalinya. Kita sudah saling melanjutkan hari dan aku menyesal masih merasa berat. Kau tahu aku selalu menunggumu, Tidakkah ini cukup?". Dan nada dering berakhir.
Aku tahu aku egois, tapi terus berpura-pura tersenyum di hadapannya? Tidak, aku tidak bisa lagi. Aku seperti bocah kan? Aku tahu, tapi hubungan ini rumit. Sebentar begini sebentar begitu, ini penyiksaan buatku. Terlebih teman-teman perempuannya yang membuatku salah tingkah. Seolah aku ini benda asing yang masuk kedunia privat mereka. Dan aku lebih tidak sanggup lagi jika berdiri didepan pacar barunya. Bersanding tepat disisi tubuhnya.
14.30, entah kabar menggembirakan atau kabar yang mengantarkanku pada penyesalan. "Dia sudah nggak ada dirumah. Baru pergi sama teman-temannya". Adikku berceletuk lagi. Yang dimaksud bukan informasi dia baru saja pergi. Tapi dirumahnya hingga setidaknya jam 2, disana tidak ada teman-teman atau pacarnya. Artinya, dia memberi privasi, dia menungguku.
Dia menungguku dan aku tidak datang. Tidak apa, sekenanya ia tahu rasanya menunggu. Dan harga yang kubayar saat ini, pukul 4 sore. Kepalaku tak bisa berhenti memikirkan kejutan manis apa yang diberikan pacar baru untuknya. Kukira hal ini akan berlangsung hingga larut, atau sampai aku mengisahkan cerita ini padamu.
ps: Kita bisa melupakan kenangan atau apa saja yang mereka lakukan sama kita. Tapi kamu nggak akan bisa lupa rasa sakitnya.
-dipta
Ya, 6 kata barusan bagiku bermakna seribu. Aku tidak sengaja lupa, aktivitas baruku seolah menghapus semua data yang telah kusiapkan sejak lama. Segera kuambil ponsel yang kutinggalkan dikamar, lalu mencari namanya di kontak ponsel. Namun niat untuk mengirim pesan happy birthday kukaramkan. Bukan tanpa alasan, tentu saja aku tak melakukannya begitu saja. Hanya aku tidak ingin terlibat pembicaraan berdua dengannya, hanya berdua, bertiga dengan ponselku. Alih-alih mengirim pesan, aku mengetik user twitternya di penulisan status dan berkata "happy sweet seventeen for you, aku nggak ngirim selamat cuma-cuma ya, hehe". Send.
10.15, ketika aku tengah bergulat dengan sosial media yang lain untuk promo barang di toko onlineshopku. Nada dering nyaring terdengar dari ponsel yang kusendirikan di atas tumpukan kertas dan buku mata pelajaran, tanda adanya sms masuk. "Bisa kerumahku sekarang? Ibuku buat nasi kuning di hari ulang tahunku". Darahku berdesir luar biasa cepat, seperti naik wahana roler coaster, entah yang kamu rasakan takut atau senang. Tapi aku tak membalas pesannya, aku hanya menaruh ponsel itu kembali ketempat semula, atau bahkan lebih jauh. Aku tahu aku harusnya senang, tapi entahlah kenangan yang pernah kulalui dengannya membuatku terus menjaga jarak.
15 menit kedua setelah kuabaikan pesan itu, nada dering kembali terdengar panjang. telepon masuk, dari dia yang-tidak boleh-disebut-namanya. Keraguan kembali duduk di jemariku yang hendak menekan tombol jawab. Tidak, aku tidak menjawabnya.
Pukul 14.00, tepat saat aku telah selesai mengurus onlineshop dan novel yang sedang kukerjakan. ponsel kembali berdering, telfon masuk (lagi). Seolah aku tengah mengirim pesan langsung padanya, aku berkata dalam hati "Maaf, tapi tidakkah ini cukup? Bukannya aku tak mau bertemu, atau menghadiri ulangtahunmu. Hanya saja aku belum siap dan menyiapkan kata saat bertemu denganmu. Kita sudah usai, dan aku menyesalinya. Kita sudah saling melanjutkan hari dan aku menyesal masih merasa berat. Kau tahu aku selalu menunggumu, Tidakkah ini cukup?". Dan nada dering berakhir.
Aku tahu aku egois, tapi terus berpura-pura tersenyum di hadapannya? Tidak, aku tidak bisa lagi. Aku seperti bocah kan? Aku tahu, tapi hubungan ini rumit. Sebentar begini sebentar begitu, ini penyiksaan buatku. Terlebih teman-teman perempuannya yang membuatku salah tingkah. Seolah aku ini benda asing yang masuk kedunia privat mereka. Dan aku lebih tidak sanggup lagi jika berdiri didepan pacar barunya. Bersanding tepat disisi tubuhnya.
14.30, entah kabar menggembirakan atau kabar yang mengantarkanku pada penyesalan. "Dia sudah nggak ada dirumah. Baru pergi sama teman-temannya". Adikku berceletuk lagi. Yang dimaksud bukan informasi dia baru saja pergi. Tapi dirumahnya hingga setidaknya jam 2, disana tidak ada teman-teman atau pacarnya. Artinya, dia memberi privasi, dia menungguku.
Dia menungguku dan aku tidak datang. Tidak apa, sekenanya ia tahu rasanya menunggu. Dan harga yang kubayar saat ini, pukul 4 sore. Kepalaku tak bisa berhenti memikirkan kejutan manis apa yang diberikan pacar baru untuknya. Kukira hal ini akan berlangsung hingga larut, atau sampai aku mengisahkan cerita ini padamu.
ps: Kita bisa melupakan kenangan atau apa saja yang mereka lakukan sama kita. Tapi kamu nggak akan bisa lupa rasa sakitnya.
-dipta
Rabu, 20 November 2013
Wisuda
Untuk hujan kusematkan
Selamat datang dan selamat jalan
Semoga jatuhmu jauh dari risau
Rinaimu tak bernada parau
-dipta
Selamat datang dan selamat jalan
Semoga jatuhmu jauh dari risau
Rinaimu tak bernada parau
-dipta
Puisi Satu Bait
Kemarin adalah kata
saat hari aku tiada
mampu memberi makna
pada sunyimu yang bersua
-dipta
saat hari aku tiada
mampu memberi makna
pada sunyimu yang bersua
-dipta
Minggu, 17 November 2013
Dalam Kedewasaan
Tahukah kau saat hati ini terluka
Ia ingin memberontak dan menangis sepuasnya
Namun hati ini telah dewasa
Yang ia lakukan hanyalah menulis sebait puisi
Ia ingin memberontak dan menangis sepuasnya
Namun hati ini telah dewasa
Yang ia lakukan hanyalah menulis sebait puisi
Sabtu, 16 November 2013
yang Sepi Malam Ini
Yang bisa di tengok
dari gubuk kami
cuma dua jendela
yang menatap sedih
setapak di depan mata pintu
di mana langkah langkah
mencari jejak
di sekitar rumah dan beranda
lalu masuk menjelajah
seperti belantara
yang sudah ia kenal.
Ia mengaduk
gula dalam toples
mencari ingatan yang telah menyerbuk
oleh peraman waktu.
Ia melesak ke kamar tidur
di mana ranjang telah memeluk
kaki lapuk dan seprei.
Sementara ia lebih terkejut
rumah ini bisa rapih
biasanya cangkir kopi
dan kulit-kulit kacang
atau putung rokok dan majalah donal
mengobrak senyap mengabrik penat.
Namun cuma sebuah kursi dan segulung tikar
tempat malam menina bobokan salam
dan sepi-sepi tergulung rapih.
Memang kini,
rumah kami ramai penyendiri
akhirnya langkah-langkah itu
beranjak pergi. saat aku cinta-cintanya
meramaikan diri dengan jejak-jejak
agar siapapun kerasan di gubuk kami
dan menggelar kopi, kulit kacang, putung rokok
atau sesederhana tawa di seduh ingatan.
-dipta
dari gubuk kami
cuma dua jendela
yang menatap sedih
setapak di depan mata pintu
di mana langkah langkah
mencari jejak
di sekitar rumah dan beranda
lalu masuk menjelajah
seperti belantara
yang sudah ia kenal.
Ia mengaduk
gula dalam toples
mencari ingatan yang telah menyerbuk
oleh peraman waktu.
Ia melesak ke kamar tidur
di mana ranjang telah memeluk
kaki lapuk dan seprei.
Sementara ia lebih terkejut
rumah ini bisa rapih
biasanya cangkir kopi
dan kulit-kulit kacang
atau putung rokok dan majalah donal
mengobrak senyap mengabrik penat.
Namun cuma sebuah kursi dan segulung tikar
tempat malam menina bobokan salam
dan sepi-sepi tergulung rapih.
Memang kini,
rumah kami ramai penyendiri
akhirnya langkah-langkah itu
beranjak pergi. saat aku cinta-cintanya
meramaikan diri dengan jejak-jejak
agar siapapun kerasan di gubuk kami
dan menggelar kopi, kulit kacang, putung rokok
atau sesederhana tawa di seduh ingatan.
-dipta
Senin, 04 November 2013
Menyakiti Semudah Itu
Ku serahkan segala kerah
Seperti embun di kelopak layu
Pagi-pagi mata sudah sayu
Terlalu sering menghidupkan malam
Dengan terik bohlam.
Ku pintal segala pinta
Seperti sulur yang mencoba hidup
Di antara para pencakar langit
Dan pengoyak tanah berhumus.
Ku tantang segala tentang
Seperti mawar yang hendak di renggut
Dari tanah yang menghidupinya
Dari duri yang dicintainya
Hanya agar tangan pecinta nyaman
Tanpa mau pikirkan:
Barangkali kamu terluka.
-dipta
Seperti embun di kelopak layu
Pagi-pagi mata sudah sayu
Terlalu sering menghidupkan malam
Dengan terik bohlam.
Ku pintal segala pinta
Seperti sulur yang mencoba hidup
Di antara para pencakar langit
Dan pengoyak tanah berhumus.
Ku tantang segala tentang
Seperti mawar yang hendak di renggut
Dari tanah yang menghidupinya
Dari duri yang dicintainya
Hanya agar tangan pecinta nyaman
Tanpa mau pikirkan:
Barangkali kamu terluka.
-dipta
Sabtu, 02 November 2013
Hujan Membacamu
Hujan tahu kau masih peduli
suara serak di jemu jarak,
lilin kecil tiada berpuan
sepeninggal tuan ke pasar zaman
memilih waktu mana yang paling apik
dan belanja ingatan melankoli.
Hujan tahu kau masih peduli
derai di sebatang serai
yang kau memarkan untuk kesenangan
lidahmu haus perisa pangan.
Hujan tahu kamu masih peduli
jejak-jejak samar
di punggung jalan yang gatal
selepas hujan menghapus
langkah tak mau pergi
yang kini terus kau cari.
Ya, Hujan tahu
sesalmu kini.
-dipta
suara serak di jemu jarak,
lilin kecil tiada berpuan
sepeninggal tuan ke pasar zaman
memilih waktu mana yang paling apik
dan belanja ingatan melankoli.
Hujan tahu kau masih peduli
derai di sebatang serai
yang kau memarkan untuk kesenangan
lidahmu haus perisa pangan.
Hujan tahu kamu masih peduli
jejak-jejak samar
di punggung jalan yang gatal
selepas hujan menghapus
langkah tak mau pergi
yang kini terus kau cari.
Ya, Hujan tahu
sesalmu kini.
-dipta
Akumu di Sebujur Waktu
selama pagi tak jemu jadi penyapa bumi
selama kamu tak jenuh jadi penanda hari
selama aku tak penuh di cangkir kopimu
selama peluh tak jadi keluh
selama utuh buatmu butuh
selama kamu rajin bertamu
selama pintuku kau ketuk dengan pagarmu
maka di tungkumu
aku masih nyala waktu
-dipta
selama kamu tak jenuh jadi penanda hari
selama aku tak penuh di cangkir kopimu
selama peluh tak jadi keluh
selama utuh buatmu butuh
selama kamu rajin bertamu
selama pintuku kau ketuk dengan pagarmu
maka di tungkumu
aku masih nyala waktu
-dipta
Kamis, 24 Oktober 2013
Rumah Terakhir
Sesal bingung mencari
Aku yang bersembunyi sedih
Di pusar ayahku
Atau pusara ibuku
-dipta
Aku yang bersembunyi sedih
Di pusar ayahku
Atau pusara ibuku
-dipta
Langganan:
Postingan (Atom)




